Wilda Ajeng Mustofa XI MIPA 1/34 Langit adalah kelam. Kata bukanlah bagiannya melainkan kristal bening kasat mata yang dipilihnya. Ia berlari dari dirinya sendiri, tanpa tujuan hingga akhirnya menyerah, dalam penyesalan. Semesta seolah mempermainkan. Terkadang melihat orang lain berjalan dengan mimik yang berbunga bunga, entah bagaimana aslinya, bisa membuat sekitarnya menjadi bahagia. Seperti bunga dan lebah yang saling menyapa. Semoga itu berlaku untuk Sang kelam. Takdir berjalan, jemari mungil itu siap mengetuk dan merengkuh. Sosok yang menghangatkan. Tapi lagi, untuk kesekian kali sang kelam menyerah, membiarkan takdir berjalan. Entah bahagia atau malah menyiksa. --- Pagi ini Sang Surya masih malu-malu. Namun tidak peduli pagi, siang atau malam, bukan Jogja namanya kalau tidak banyak pelanggan. di rentetan kendaraan yang...